Thursday, November 16, 2006

5 Lessons from the Constant Gardener

Hendro Prasetyo

Salah satu hobby saya adalah berkebun. Pagi-pagi sebelum berangkat ke kantor atau di akhir pekan, senjata saya adalah gunting, sekop dan sabit. Merumput di pagi hari di tengah embun tanaman dan wangi bunga melati sungguh nikmat sekali. Sambil badan berolah raga, pikiran melayang memikirkan apa saja yang mau dikerjakan hari itu. Mandi pagi pun terasa sangat segar setelah badan dan otak mendapat cukup pemanasan. Secangkir kopi panas seduhan istri tercinta cukup sudah untuk melengkapi kenikmatan hidup di pagi hari.

Banyak pelajaran hidup yang dapat dipetik dari berkebun. Berikut ada 5 poin yang dapat saya bagi dengan anda semua:

1. Tidak ada tanaman yang sempurna

Halaman rumah kami tidak seberapa luas. Saya dan istri sering berdebat mengenai tanaman apa yang perlu ditanam. Istri saya menyukai tanaman yang dapat dikonsumsi, seperti buah-buahan dan sayuran. Sementara, saya lebih suka tanaman keindahan. Kalau mengikuti saran istri, beringin di depan rumah sudah dicabut dan diganti pohon mangga. Bunga-bunga di belakang rumah diganti pohon katuk, melinjo, lengkeng, jeruk, tomat dan cabai. Wah, seperti di kampung saja! Prinsip saya, buah dan sayuran bisa dibeli, tapi keindahan di halaman rumah tidak ada gantinya.

Umumnya, tanaman memang hanya memiliki satu dari 3 manfaat:


  • menghasilkan keindahan
  • dinikmati buahnya
  • bermanfaat kayu/daunnya

Jarang ada tanaman yang memiliki lebih dari satu manfaat. Tanaman yang indah biasanya tidak berbuah atau berkayu keras. Tanaman yang berbuah atau berkayu keras biasanya tidak indah. Tuhan sudah mengatur perannya masing-masing. Pohon melinjo tidak seindah pohon bugenvil dan pohon mangga daunnya tidak selebat pohon beringin.

Manusia juga seperti tanaman. Ada yang menghasilkan keindahan (muka, suara, gerak tubuh) seperti para bintang film, model dan penyanyi. Ada yang menghasilkan "buah" dari kerja keterampilannya seperti para profesional berbagai bidang. Ada yang hanya dipakai fisiknya saja seperti para atlet dan buruh kasar. Perempuan cantik biasanya tidak menjadi cendekiawan atau berfisik kuat. Profesional umumnya tidak cantik/ganteng atau berfisik kuat. Para atlet dan buruh kasar biasanya tidak ganteng/cantik atau intelek.

Memiliki lebih dari satu "manfaat" adalah pengecualian dan dianggap luar biasa. Agaknya, saat ini hanya Rusia yang memiliki juara dunia tenis yang cantik (Maria Sharapova) dan juara dunia tinju yang doktor/Phd (Vitaly Klitscho). Kombinasi yang jarang. Belum ada atlet yang juara dunia, cantik sekaligus doktor.

Jadi, kalau anda hanya menghasilkan satu manfaat saja dalam hidup, bersyukurlah. Kebanyakan orang seperti anda.

2. Untuk menjadi besar dan bertahan, perlu akar yang kokoh

Pohon beringin depan rumah saya tumbang di hari pertama hujan bulan ini. Banyaknya air yang tertahan di daunnya yang lebat menjadikannya tidak sanggup lagi bertahan dari terpaan angin. Saya memandang dengan sedih ketika pohon kesayangan yang tiap hari dipandang dan dirawat itu tergeletak membujur tak berdaya.

Saya menyesal karena ketika memberi pupuk beberapa minggu sebelumnya, saya membuang akar tunggangnya yang menjalar panjang ke mana-mana. Rupanya, akar itu berfungsi sebagai cengkeraman untuk menjaga pohon tetap berdiri ketika hujan dan angin. Pohon yang lebat juga membutuhkan akar yang lebat dan dalam.

Semakin tinggi posisi kita dan semakin besar tanggung jawab kita, semakin dalam dan luas akar yang kita butuhkan. Dalam organisasi, seringkali orang naik terlalu cepat melebihi kemampuan akarnya untuk menopang. Ketika terjadi pergantian manajemen atau perubahan arus politik kekuasaan yang tidak menguntungkan, dia dapat "tumbang" dengan mudah. Seperti cangkokan atau pohon yang besar dalam pot yang kemudian dipindah ke tanah lapang, ia harus ditopang dengan kayu-kayu. Bagi pemimpin debutan, kayu-kayu itu berupa dukungan moral, politik dan sumber daya oleh para mentor dan sponsornya.

Dalam pendidikan anak, kita juga harus berhati-hati. Jangan sampai anak bertambah besar tanpa diikuti pertumbuhan "akar" yang baik. Jangan berikan segala sesuatu sebelum dia siap. Oom William Suryajaya memetik pelajaran yang sangat pahit ketika bangunan bisnis yang dibangunnya hancur dalam sekejap karena diberikan ke anaknya sebelum dia siap mengelola. Demikian juga para ABG yang terjerembab dalam salah pergaulan karena menjadi besar tanpa akar akhlak yang kuat. Jadilah besar dengan akar yang kuat.

3. Bila anda seperti rumput, anda harus kuat bertahan hidup

Rumput memiliki risiko hidup yang paling besar. Risiko paling sering adalah rusak karena terinjak-injak. Risiko lainnya adalah kekeringan. Ketika musim kemarau, rumput adalah yang paling dulu kering, di saat yang lainnya masih tetap hijau. Akarnya yang pendek membuatnya tidak memiliki akses ke air. Andalan satu-satunya bagi rumput untuk menghadapi kerasnya tantangan adalah daya survivalnya yang tinggi. Dia tidak mati meskipun telah kering kerontang seolah mati.

Ketika musim hujan, rumput akan kembali hijau. Namun, pada saat yang sama di sekitar tanaman rumput akan muncul berbagai jenis tumbuhan liar yang menyerobot sebagian tempat hidupnya. Bila tidak dibela, rumput kita yang cantik akan terkalahkan oleh tumbuhan liar seperti kerokot, alang-alang, dan pengganggu lainnya. Ternyata di musim hujan ada bahaya bagi rumput yang tidak kalah besar di banding musim kemarau: bahaya persaingan.

Itulah nasib hidup di kalangan bawah, yang rentan terinjak oleh yang kuat dan paling menderita di saat krisis ekonomi. Mereka juga paling mudah terpental dalam persaingan. Tukang bubur ayam di kompleks saya hanya pas-pasan penghasilannya ketika kompleks kami baru dibuka dan orang belum banyak yang tinggal. Begitu sudah ramai dan konsumen banyak mengantri di pagi hari, ada dua tukang bubur ayam lain yang datang mengambil "market share"-nya. Dia kembali pada posisi pas-pasan dengan omzet seperti semula.

Jangan jadi seperti rumput yang gampang terinjak dan penuh persaingan hidup. Namun, bila anda harus demikian, contohlah semangat survival rumput.

4. Ketahui kebutuhannya sebelum merumuskan pemenuhannya

Beberapa tanaman bunga kami terus-menerus meranggas meskipun sudah rajin dipupuk dan disiram. Beberapa bahkan "mati dalam kemakmuran" unsur hara. Ternyata, ketika mereka saya pindahkan ke tempat lain, mereka tumbuh subur dan berbunga lebat. Masalahnya ternyata adalah kekurangan sinar matahari. Dalam kasus lain, ada tanaman yang justru layu karena terlalu banyak sinar matahari.

Seperti juga tanaman, masing-masing individu memiliki kebutuhan dan kecenderungan yang unik. Kalau kita salah memberikan pemenuhan, maka tidak muncul hasil yang diharapkan. Beberapa waktu lalu seorang rekan kerja mengajukan pengunduran diri dari Perusahaan karena merasa kemampuannya tidak bertambah dan kurang ada peluang menambah ilmu. Bagi dia, mengembangkan diri lebih penting daripada kenaikan gaji atau promosi. Di bagian lain Perusahaan, ada rekan lama yang mengundurkan diri karena tawaran gaji yang lebih besar, meskipun dia tahu bahwa untuk jangka panjang mungkin tidak menguntungkannya bagi pengembangan diri. Bagi dia, tambahan uang sekarang lebih dibutuhkan daripada karir jangka panjang.

"Different strokes for different folks", kata Ken Blanchard dalam buku the One Minute Manager. Dalam golf, stik yang berbeda dan kecepatan pukulan berbeda digunakan untuk kondisi permainan yang berbeda. Pendekatan yang berbeda juga perlu dilakukan untuk orang yang berbeda pada situasi yang berbeda.

5. Di balik keindahan dan prestasi, ada kerja keras

Melihat taman yang indah, orang biasanya hanya kagum dan (seringkali) merasa iri ingin memilikinya. Yang seringkali tidak dipahami adalah bahwa butuh ketekunan dan kerja keras untuk memelihara sebuah taman. Kita harus rajin menyiram air, menyiangi tanaman pengganggu, memotong dahan kering, membersihkan daun yang jatuh, memberi pupuk, melakukan rotasi tanaman, membunuh hama (ulat, belalang, semut, dll), dan lainnya.

Di balik organisasi yang rapi, rumah yang tertata, anak-anak yang tumbuh sehat dan sholeh, blog yang bagus dan banyak dikunjungi, ada kerja keras dan ketekunan. Ketika anda melihat penampilan atlet yang hebat di arena, bayangkanlah berapa ribu jam latihan yang telah dijalaninya, Tidak ada yang gratis dalam hidup, kecuali yang diberikan Allah SWT. Anda ingin mendapatkan sesuatu, anda harus siap membayarnya. Semakin besar yang diperoleh, semakin besar harga yang harus dibayar.

Wednesday, November 01, 2006

RI foreign reserves: Our fragile borders

Jakarta Post

November 01, 2006

Kahlil Rowter, Jakarta

In the last few months Indonesian foreign reserves have risen
steadily at the same time that the rupiah has strengthened. The
two are certainly related. So closely in fact that we need to
look elsewhere for the real reason. Foreign inflows into the
financial market are one leading candidate. But will it be
permanent? And if it isn't, why?

Since the economic crisis in the late 1990s, the exchange rate
has been the most watched economic indicator. Besides its
psychological impact, it is also intimately interwoven into the
fabric of the economy. Many commodities and services are quoted
in U.S. dollars, even those produced and consumed onshore. Hence
many prices move not because of changes in supply or demand, but
due to the volatility of the exchange rate.

Since Bank Indonesia gave up the intervention band in 1997, this
volatility has reverberated throughout the economy, often
causing decision-making jitters. Not being able to pin down
prices, both output and input, has discouraged investment which
at its core is risk taking. Hence, currency stability is
paramount.

Fast-forward to 2006. We should be pleased that our foreign
reserves have risen from an average of US$35 billion last year
to the current position of a little over $42 billion, or about
$39 billion after paying our debt to the International Monetary
Fund. Part of this increase is due to export growth thanks to
favorable commodity prices. At the same time imports are still
soft owing to the slowdown in the domestic economy. However, the
trade balance is in risk of tapering off as the global economy
cools down and our own imports start to rise on the back of
domestic economic growth.

The other major factor driving reserve accumulation is the
inflow of foreign currency. Its role can be roughly estimated by
looking at net inflows as a portion of reserve change. Foreign
ownership of government bonds rose from $3.2 billion in December
2005 to $6 billion in September 2006. While foreign net
purchases in the equity market now total approximately $1.3
billion. These two sums add up to about 51 percent of the net
addition in reserves for this period. It is therefore safe to
say that foreign inflows have played a very significant role in
the rise of foreign reserves and consequently the rupiah.

It should be noted that foreign equity net purchases may not
represent what actually took place. The weakness of this
statistic is that equity brokers are no longer required to state
where their orders originate from. This means foreign equity
buyers can be understated. On the other hand, foreign
participation is mostly indicated by orders from foreign equity
brokers, which could overstate foreign ownership. We can only
hope that capital market supervisors will someday publish
regular equity ownership by institutions, similar to government
bond ownership.

A large share of foreign ownership in a country's foreign
reserves may be necessary and, therefore, an insufficient cause
for concern. But let us examine more closely two recent periods
where it might. The first was May 2006. The rupiah strengthened
from Rp 9,830 per US dollar at the end of 2005 to Rp 8,775 at
the end of April 2006, but then fell back to Rp 9,220 by the end
of May 2006. Why?

Foreign ownership in government bonds in May 2006 dropped about
$133 million, but foreign equity net purchases slowed down
considerably from $340 million to $78 million in April. What
really took place in May were foreign sales of $160 million and
purchases of $238 million. But the sales triggered a price drop
in many shares resulting in a retraction of the index from 1,464
at the end of April to 1,329 at the end of May. Meanwhile
reserves still rose in May by about $161 million.

On a quarterly basis, net portfolio inflow in the first quarter
of 2006 was $3.7 billion, with a $3.6 billion inflow in bonds
and $120 million in equity. While in the second quarter the
position reversed with a net outflow of $1.2 billion, including,
most probably, Bank Indonesia promissory notes (SBIs) and other
short-term positions amounting to about $1.5 billion. At the
same time, there was an inflow into government bonds of about
$440 million. Hence, the decline in foreign ownership in
Indonesian assets was rather small in net terms but large in
gross terms. And it triggered the substantial drop in the
rupiah.

In September another fluctuation took place in the financial
market. This time there was a pullback from foreign investors in
government bonds amounting to $340 million. At the same time
foreign equity net purchases halved to about $100 million from
over $200 million in the previous month. The Jakarta Composite
Index actually rose 103 points in the month. Meanwhile, the
foreign reserve increased by $360 million, probably due to
export proceeds. Yet the rupiah fell over Rp 135. Conceivably
this occurred due to spikes in US dollars during the offshore
bond investors' exits. This is just another example of how small
movements in financial assets can trigger large movements in the
currency. Such is the granularity of the financial market.

If Indonesia's foreign reserve is dependent on financial flows,
just how big are these flows, and what about other countries?
One estimate is that about $15 billion out of the present
reserve position of about $40 billion consists of this so-called
"hot money".

In the Philippines the figure is about $2 billion against their
reserves of $21 billion. In Malaysia the figure is estimated to
be minimal after the recent bond sell-off. In Singapore and Hong
Kong this statistic is meaningless due to their completely open
capital accounts.

Furthermore, both countries' reserves are large enough and their
bond and equity markets are deep enough that their currencies
are quite immune to anything but a very massive foreign investor
pullback. It appears that Indonesia is comparatively vulnerable,
especially after taking into account its shallow bond and equity
markets.

Aside from the general risk from a sudden massive investor
pullback it appears even small movements can cause substantial
currency volatility. A recent trend where major Indonesian firms
have been raising debt offshore, enticed by the low cost and
ease of borrowing, only heightens this risk. Exporters are
immune to exchange rate fluctuations, but what about those with
rupiah revenues?

Allowing unhindered flows in and out of the financial market
certainly has its advantages. But, it comes with a price. We
need to re-examine this and carefully consider the costs and
benefits. In the meantime, a closer watch is needed. We should,
at least, start with timelier reporting of foreign ownership in
equity. And this data should be widely published to enable close
scrutiny.

If India has an automatic equity market shutdown when the index
falls below a certain threshold for a given period, we should
also consider something similar.

Comprehensive financial sector vigilance to external impact
needs to be initiated. This should include participation from
market players. This will demonstrate that the authorities are
on top of the risks and at the same time enable the gathering of
near real-time data. Existing ties among authorities across
countries can and should also be strengthened. Ultimately, only
vigilance can save us.

The writer is chief economist, CIMB-GK Securities Indonesia. The
views expressed here are personal.

sahabat dan keluarga

Nama saya Imam Rasyidi. Saya adalah kontraktor rumah tinggal. Website
usaha saya: www.rii-kontraktor.com, email: irasyidi@yahoo.com, HP:
0816-997922, 021-70727840
____________________________________________________________

Keluarga dan sahabat mirip dengan pekerjaan dan
liburan. Kalau kita memiliki keluarga yang harmonis
seperti memiliki pekerjaan yang menyenangkan. Demikian
juga kalau kita memiliki sahabat yang baik mirip
dengan liburan yang menyenangkan.

Keluarga yang harmonis, dimana anggota keluarga
(terutama ayah dan ibu) saling pengertian, saling mau
berkompromi dan saling memberikan space untuk urusan
pribadinya, tentu saja ini adalah keluarga yang
diimpikan oleh semua orang normal yang berkeluarga.
Sementara, teman yang baik adalah teman yang mengisi
kelemahan kita atau saling berkontribusi pada bagian
yang teman kita tidak miliki. Ada sepasang sahabat
yang satunya jadi tempat curhat, tapi dia akan
bersedia mengantar kemanapun temannya mau pergi.
Adapula sepasang sahabat yang satunya cerewet yang
satunya pendiam, yang cerewet mengisi
kekuranginisiatifan si pendiam, sementara si pendiam
selalu bersedia diajak kemana di cerewet pergi. Ada
lagi sahabat yang satunya pintar yang satunya ngemong.
Si pintar sering jadi tempat bertanya, si ngemong
sering melayani di pintar.

Pola-pola hubungan keluarga dan sahabat seringkali
tidak sama, dan satu keluarga yang memiliki pola yang
satu akan merasa aneh melihat pola hubungan keluarga
yang lain. Ada satu keluarga dimana si Bapak sangat
sayang dan protektif terhadap istrinya. Si istri
sangat dimanja tapi di pihak lain si suami sangat
mendominasi keputusan dalam keluarga tersebut. Ada
keluarga lain dimana suaminya tidak secara ekspresif
menunjukkan sayang kepada istrinya, tapi
keputusan-keputusan di keluarga diambil secara
consensus. Masing-masing keluarga akan merasa aneh
dengan pola-pola hubungan yang lainnya. Sebenarnya dua
keluarga ini mungkin sama-sama harmonis atau sama
tidak harmonisnya.

Berkeluarga mirip dengan memiliki pekerjaan. Bisa jadi
kita rasanya nikmat berkumpul dengan anggota keluarga
atau mengerjakan pekerjaan kita di kantor tapi bisa
rasanya tidak betah berada di rumah dan bersama
keluarga atau tiap pagi rasanya berat sekali mau
berangkat ke kantor.

Bagi yang merasa kurang tepat memilih pasangan hidup
bisa mencari pasangan hidup yang lain yang lebih tepat
tapi bisa juga saling menyesuaikan diri karena tidak
ada pasangan hidup yang sempurna dan sangat mengerti
perasaan kita. Lha wong yang punya perasaan juga
kadang nggak ngerti perasaannya sendiri. Walaupun
demikian pilihan ganti pasangan akan jadi lebih rumit
manakala kita sudah memiliki junior yang harus juga
diperhitungkan masa depannya.

Demikian pula pekerjaan, kalau kita merasa tidak
cocok, kita dapat mencari pekerjaan baru yang bisa
lebih cocok untuk kita, entah dari sisi gajinya,
suasana kerjanya, karirnya, dll. Tapi seringkali
ternyata pekerjaan baru malah lebih bikin kita tidak
betah. Ada teman saya yang pindah kerja berkali-kali
dan berkali-kali itu pula balik lagi ke tempat semula.
Untung perusahaan lamanya masih masih menerima
kehadiran dia. Dan akhirnya setelah tiga kali diterima
menjadi pegawai baru di tempat yang sama. Dia kapok
dan bersumpah tidak akan lagi pindah kerja ke tempat
lain.

Sama seperti liburan, bersahabat tidak terikat kontrak
seperti kita berumah tangga. Kalau kita liburan kita
bisa memilih tempat yang paling kita sukai. Mungkin
ada orang yang memiliki tempat favorit dimana hampir
tiap liburan pergi ke tempat yang sama. Tapi tempat
favorit bisa juga beberapa tempat. Sehingga bisa
bergantian kalau sudah terlalu sering ke tempat
tertentu.

Sama dengan sahabat, ada orang yang sahabat karibnya
satu, dua, tiga atau beberapa. Ada orang yang tidak
memiliki sahabat karib sama sekali dan lebih senang di
rumah saja berdedikasi kepada keluarga. Atau ada yang
tidak ada sahabat karib tapi temannya banyak.

Bagi yang memiliki sahabat karib, apalagi lebih dari
satu. Rasanya seperti memiliki tempat liburan favorit
yang bikin kangen. Kalau lagi bosan dengan suasana
panas, maka kita pergi ke gunung. Kalau lagi ingin
bermain pasir, maka kita pergi ke pantai. Sama dengan
sahabat, kadang kala kita ingin berdiskusi serius,
maka kita akan menelpon atau berkunjung ke teman yang
sukanya berbicara hal-hal yang serius. Tapi manakala
sedang suntuk, maka sahabat yang fun lah yang akan
kita datangi.

Menurut saya, memiliki sahabat menyeimbangkan jiwa.
Memiliki sahabat juga mendidik emosi kita untuk bisa
menerima kekurangan dan kelebihan orang. Selain itu
seringkali sahabat bisa lebih dekat daripada saudara
sekandung sekalipun.

Nabi Muhammad pun dikelilingi para sahabat yang
mencintainya dan Beliaupun mencintai mereka. Sahabat
Nabipun memiliki karakter yang berbeda-beda. Ada Abu
Bakar yang lembut dan sangat pengertian. Ada Umar yang
spontan dan gagah berani. Ada Ustman yang kaya dan
generous dan ada Ali yang cerdas dan bijaksana.

Bagi mereka yang memiliki keluarga yang harmonis dan
sahabat yang dapat berbagi, rasanya seperti memiliki
kekayaan yang tidak mau kita pertukarkan dengan
kekayaan duniawi manapun. Apalagi dibarengi dengan
pekerjaan yang menyenangkan dan tempat liburan favorit
yang selalu menanti kunjungan anda. Wah wah wah, bisa
bisa lupa akhirat ya……

Friday, October 20, 2006

Taking the pulse after two years into the SBY administration

The Jakarta Post

October 20, 2006

Kahlil Rowter, Jakarta

It is that time of year again when report cards are being
contemplated. And not just for school children but for the
government of Susilo Bambang Yudhoyono. Although there is more
than two months left of the year, we can imagine how things are
going to pan out.

The obvious starting point is growth and its quality. The main
reason for having a government, after all, is to raise living
standards. To this end, the government, in its medium-term plan
(RPJM), targeted unemployment rates of 9.5 percent and 8.9
percent for 2005 and 2006. This translates to 9.9 and 9.4
million openly unemployed people. The outcome, however, is a lot
worse with unemployment rates of 11.2 percent and 10.4 percent
for 2005 and 2006. Consequently, the number of unemployed people
stood at 11.9 and 11.1 million in those two years.

Another indicator of overall living standards is poverty. And
like unemployment the record here is dismal. The medium-term
plan does not give a year-to-year target, only an end of program
figure of close to 19 million poor people or 8.2 percent of the
population by the end of 2009.

This appears to be a tall order. In February 2005 the number of
poor was 35 million or about 16 percent of the population. In
March 2006 the figures swelled to 39 million or about 17.8
percent of the population. On an annual basis this is puzzling
given the rise in economic growth from 5.05 percent in 2004 to
5.60 percent in 2005. But in terms of quarterly GDP the evidence
supports this, as 1st quarter 2005 growth was 6.25 percent while
for the same period in 2006, growth was only 4.7 percent.

The main reason, of course, was the massive rise in inflation.
Unfortunately spiraling food prices hit the poor particularly
hard. General inflation was 18 percent between February 2005 and
March 2006. But with their higher dependency on food the poor
were hurt more than the general population. In general this
suggests a failure in controlling rice prices. And in particular
it also points to the shortcomings of the rice-for-the-poor
program and the direct cash transfer program.

The growth record in these two years is mixed. For 2005 growth
at 5.6 percent was a tad higher than the target of 5.5 percent,
while for 2006 growth, the target of 6.1 percent in all
likelihood will not be met. In regards to inflation, no
statistics are needed to conclude the target for 2005 (7
percent) was missed. But even for 2006, the target of 5.5
percent appears likely to be out of reach. Most likely 2006
inflation will be around 7 percent.

The rupiah also refuses to settle with an average of 9,750 in
2005 against the target of 8,900. In 2006 the average target is
8,800, but more likely the average will be around 9,200.

The main engine for growth this year was exports and to some
extent the burst in government spending in the 2nd quarter.
Exports rose mainly on the back of the rise in commodity prices,
not so much the increase in production. This is worrying should
the global economy slow down next year.

In the face of a budget deficit of 1.1 percent, government
expenditure cannot be expected to sustain a boost in growth.
However, if global oil prices drop to below $63 the money set
aside for energy subsidy can be reallocated for capital
expenditure.

Declining interest rates should encourage consumers to
reallocate their income from savings to consumption. This may be
true for those in the middle class and above. Investment may
rise at a later stage, once the lending rate starts to decrease.
Major banks cut deposit rates while maintaining lending rates to
compensate for slow loan growth. And they can get away with it
because of the steady decline in deposit guarantee amounts --
slated to be reduced to Rp 100 million in March 2007.

The result is: depositors at major banks are staying put while
those with money in smaller banks are like cats on a hot tin
roof.

The 2004 story when declining rates first boosted consumer
spending looks likely to recur. Already several medium-sized
banks, yielding to competitive pressure, are cutting automotive
and housing loans.

These developments are largely outside direct government
influence. Just like in 2003-2004, much of the increase in
consumer spending and ultimately growth was the result of
monetary stimulus. The government plays an indirect role by
maintaining fiscal discipline mainly by not increasing key
administered prices like electricity. This is more like an
exercise in moving numbers around.

A more active role, other than cheerleading, would be to
overcome all the well-known investment impediments. It should
also be noted that an ever-increasing amount of resources are
handed over to regional governments. The central government
should take advantage of this by helping regional leaders
overcome their problems. We need to resuscitate the previously
overused word: coordination.

For example there are a lot of inter-district projects that can
take advantage of economies of scale. At the same time, low
regional budget absorption requires a massive effort to enhance
planning and budgeting skills.

These two years have been challenging for the government, but
especially for the people who put it in power. The result has
been lackluster. Other than maintaining fiscal discipline not
much direction has been forthcoming. As a result the economy is
riding on the promise of monetary easing and not much else.
Recent inflows into the financial market are at the same time
fickle and disconnected from the real sector. Hence there is not
much use for a broad-based increase in living standards.

We expect a lot more in the remaining three years of this
administration.

The writer is chief economist, CIMB-GK Securities Indonesia. The
views expressed are personal.

Saturday, October 14, 2006

Descartes dan Wittgenstein

Nama saya Imam Rasyidi. Saya adalah kontraktor rumah tinggal. Website usaha saya: www.rii-kontraktor.com, email: irasyidi@yahoo.com, HP: 0816-997922, 021-70727840
_____________________________________________________________

Descartes adalah filosof yang hidup hampir sejaman dengan Newton. Demikian juga Wittgenstein adalah filosof yang hidup hampir sejaman dengan Einstein. Descartes adalah filosof yang turut berkontribusi dalam matematika sedangkan Wittgenstein awalnya sangat tertarik dengan pondasi logis matematika. Wittgenstein juga bergaul akrab dengan Ramsey, Russel dan Whitehead, dimana para matematikawan ini sangat menghormati pendapatnya.

Menurut pendapat saya yang tidak berlatar belakang filsafat, fisika atau matematika, Descartes adalah filsuf yang sejajar dengan Newton dalam bidang fisika. Descarteslah yang membuat matematika menjadi bahasa dalam ilmu alam. Newtonpun membaca bukunya Descartes sebelum membuat penemuan-penemuannya yang terkenal.

Descartes juga menurut saya filsuf pertama yang meletakkan pemikiran filsafat secara paradigmatis. Dia tidak membahas persoalan-persoalan filsafat secara tersendiri dan masing-masing. Dia memulai dengan mempertanyakan segala sesuatu sampai pada suatu titik kesadaran terujung.

Saya sangat menikmati buku yang dikarangnya yang seperti menulis fiksi itu. Untuk mengerti karangan Descartes mungkin seperti kita mencoba memahami gambar 3D yang sampai sekarang saya tidak bisa melihatnya. Orang harus bisa memiliki sudut pandang tertentu.

Saya sangat mengidolakan Descartes sampai saya sekolah ke Bristol dan ketemu buku yang ditulis oleh filsuf yang namanya Ludwig Wittgenstein. Bukunya yang pertama yang berjudul Tractatus Logico Philosophicus sangat aneh baik dari sisi bahasa maupun editorialnya. Belum pernah saya lihat buku seperti itu.

Pemakaian bahasanya sangat austere. Lebih mirip karya puisi daripada karya filsafat. Sampai saat ini saya belum bisa memahami karya-karya Wittgenstein. Akhirnya saya beli buku-buku sekunder dan pengantar mengenai karya Wittgenstein. Itupun tetap saja susah dipahami. Koleksi buku saya oleh Wittgenstein dan tentang Wittgenstein dan idenya mungkin lebih banyak daripada dosen filsafat sekalipun. Sebenarnya sama dengan buku matematika Topolgy yang saya miliki. Tapi itu nanti saya tulis kemudian.

Menurut saya Wittgenstein sejajar dengan Eintein dalam ilmu fisika. Tetapi apresiasi kejeniusan Wittgenstein tidak sebanyak terhadap Einstein. Termasuk juga di Indonesia. Waktu saya mencoba ikut milis filsafat dan saya nanya mengenai Wittgenstein, eh hanya satu orang yang jawab. Itupun sepertinya saya lebih tahu dari yang jawab (mohon maaf kedengaran sombong, habis mau menyombongkan yang lain nggak bisa, kaya nggak, ngetop nggak, pintar juga nggak, lha cuma pemborong kelas mikro yang masih dibawah kelas UKM).

Suatu saat kalau sudah tua, saya akan pension dan mencoba untuk belajar mengenai tokoh nyentrik ini. (Mungin kata nyentrik merupakan understatement). Sama seperti orang lain bercita-cita kalau sudah tua mau bertani, keliling dunia, koleksi mobil tua dsb.

Saking jeniusnya ini orang, orang macam Keynes (yang merupakan Einsteinnya ekonom) berkomentar: “Well, God has arrived. I met him on the 5.15 train”. Komentar ini ditulis Keynes dalam surat untuk Lydia Lopokova tertanggal 18 Januari 1929 mengenai kedatangan Wittgenstein ke Cambridge, setelah Wittgenstein berkelana ke beberapa negera Eropa dalam waktu cukup lama. Keyneslah yang jadi patronnya Wittgenstein. Dialah yang membiaya keperluan hidupnya kapanpun Wittgenstein memerlukan. Walaupun Keynes tidak melakukannya dengan cara vulgar karena pasti akan ditolaknya.

Sebenarnya tidak perlu Wittgenstein meminta uang kepada siapapun dan memang mungkin tidak pernah, karena dia adalah anak bungsu dari pengusaha besar industriawan Austria. Tapi setelah orang tuanya meningal dan dia diberi warisan yang sangat cukup, eh malah warisannya diberikan sebagian kepada para seniman di jamannya dan sebagian lagi ke saudara perempuannya. Malah dia hidup sebagai guru SD di pedesaan terpencil.

Tekniknya dalam berfilsafat sangat membosankan. Dia akan menjawab persoalan tertentu dengan cara mempertanyakannya dari segala sudut. Kalau Descartes memiliki teknik berfilsafat seperti laser beam yang terus maju sampai ke ujung bersoalan. Wittgenstein kebalikannya seperti memakai senapai mesin dan membidik sasarannya dari segala arah, utara selatan timur barat, atas bawah, kiri kanan, sampai susah mencari celahnya.

Bagi yang punya kecenderungan berfikir besar dan mengejar sampai ke dasar, cara berpikir Wittgenstein sungguh sukar diikuti karena keburu bosan dengan pemaparannya yang entah berujung kemana. Namun demikian pemikirannya sangat orisinal dan sangat tidak terduga.

Buku pertamanya sangat susah dimengerti karena sifatnya yang sangat personal. Buku itu ditulis kala dia dalam peperangan pada PD I. Kelihatannya dia tidak membayangkan bahwa bukunya dimaksudkan untuk dibaca banyak orang. Bahkan dua orang yang cukup dekat dengan dia dalam hal pemikirin dan pergaulanpun, yaitu Russel dan Frege, salah mengerti apa yang dia maksudkan dalam buku itu. Dan dalam surat yang dia tulis kepada Russel dia mengeluh: “It is very hard not to be understood by a single soul.”

Buku-buku berikutnya, yang sebagian didiktekan langsung dari otaknya kepada para muridnya di Cambridge, pun masih susah dipahami. Buku-buku inipun mensyaratkan kita untuk memahami konteks dan pergulatan pemikiran yang dia alami. Tapi saya tidak kecil hati karena bahkan muridnya yang hadir saat itu lebih sering tidak mengerti apa yang dia ungkapkan. Padahal murid-muridnya termasuk para calon filsuf berbakat, bahkan salah satunya matematikawan Alan Turing yang terkenal itu.

Saya sebenarnya ingin memberi nama anak saya Ludwig Muhammad yang merupakan campuran antara nama kebarat-baratan dengan nama Islam, tapi rupanya floor tidak setuju. Akhirnya waktu saya memiliki burung anis merah saya beri nama Ludwig dan sempat juga juara lomba sekali.

Wednesday, October 04, 2006

You too can win Noble Prize in economics

Jakarta Post

October 04, 2006

Kahlil Rowter, Jakarta

You say you want to win the Noble Prize in Economics, and ask me
what's involved. Well, first, you have to be alive when the
Noble Committee meets to discuss. If dead economists were
allowed, we will need to go back to Adam Smith and consider him.

Second, you must have published ground-breaking theories in
economics. Third, you have to have a wide following, evidenced
by a long list of citations. Lastly, someone must nominate you.
And that someone must be solicited by the Royal Swedish Academy
of Sciences. Asking a friend (like me) won't do it.

Meet all of these criteria, and you are almost halfway there.
You now have to compete against about 100 other bright
economists for the attention and nod from experts tasked by the
academy. Finally the academy will meet to choose you (or not).
This meeting is held every October.

If you win alone the prize will be 10 million Swedish Krona, a
beautiful gold medal, the chance to meet the king of Sweden and
have your name published in many (but not all) newspapers. The
prize can be shared by a maximum of three people. But US$454.000
is still a lot of money.

And then the real fun begins. Expect to receive lecture requests
all the time. And you get to name your price. I believe the
current going rate is at least $15,000 per lecture exclusive of
travel and accommodation expenses. You might even be invited by
central banks to talk in exotic places.

Some of your relatives might get overly exited. Such was not the
case for Finn Kydland (2004 laureate). As he told attendees of a
conference in Bali last year: his mother was unfazed even in the
face of reporters storming her house following the Nobel
announcement.

Which branches of economics have been awarded this prize? One is
called General Equilibrium, the study of basic economic
structures, which derives conditions for consistency, stability
and efficiency. This lies at the core of the economics
discipline. The most celebrated winners here are Kenneth Arrow
and Gerard Debreau whose work generalized the field to cover
static, spatial and even inter-temporal systems including
decision-making under uncertainty.

Next is Macroeconomics or the study of economies as a whole. The
best-known winner here is Milton Friedman whose contributions to
monetary economics are required reading in most economics class.

Equally important is the contribution of Franco Modigliani and
Merton Miller, who connected a firm's dividend policy with its
stock price and comparisons of debt versus equity financing,
although this conceivably falls into Microeconomics. Another
laureate, Robert Mundell, laid down the international dimensions
of Macroeconomics.

Meanwhile the policy aspects of Macroeconomics was irrevocably
enriched by Robert Lucas by invoking rational as opposed to
adaptive expectations in which case individuals continue to make
systematic errors. Finn Kydland and Edward Prescott, awarded the
Economics Prize in 2004, highlighted that policy credibility and
its political feasibility should be the main issues, which goes
a long way toward explaining why some policies work while others
do not.

In Microeconomics, George Akerloff, Michael Spence and Joseph
Stiglitz gave insights about information and its distribution as
the main explanation for market imperfections. For example
asymmetric information used in the car market can actually
result in bad cars overwhelming good ones due to the difficulty
in ascertaining quality.

Another example: Degrees from excellent universities are
sometimes overpriced because of the difficulties in assigning
human capital quality. Harry Markowitz, Merton Miller and
William Sharpe were awarded for contributions in financial
economics. Meanwhile, Robert Merton and Myron Scholes were
awarded for their contribution to the fundamentals of derivative
asset pricing.

Besides "pure" theoretical contributions, the award was also
given to the so-called "inter-disciplinary" approaches. These
include Gary Becker for studies utilizing economics to study
sociological structures and processes, like marriage and the
price of children. This theory explains nicely why population
growth is dwindling in many economies as incomes rise.

Using a transaction cost approach Ronald Coase has almost
single-handedly created the field of law and economics. Herbert
Simon investigated the psychological processes underlying
decision-making that is usually not the best of all outcomes but
satisfactory given the information at hand. And don't forget
Amartya Sen who studied the philosophical underpinnings of
collective decisions and welfare programs, mainly how income is
distributed.

Prizes were given not just for the depth of insights but also
for how wide they are. In this regard, the expansion of
economics reasoning into other disciplines has been derided as a
move to create an empire.

This may not be the original reason, although in effect it may
appear to be so. After all economics studies incentives. But not
all incentives are pecuniary. Hence any organization with people
in them can potentially be understood using economics.

Two main directions of economic methodology strongly represented
in the Nobel Prize selection are: deductive reasoning and the
increasing use of mathematics. Adam Smith would certainly
mistake any current PhD macroeconomics course as a class in
mathematics.

What practical purpose can one derive from following the
Economics Nobel prizes?

First, they represent peak developments in economics thinking.

Second, they form a historical record of development in ideas
that increasingly becomes important in the application of
economics. And as the time lag gets shorter between publication
and award, they also give a good basis for anticipating what
tools economists are using now and in the near future.

I hope you now have a better understanding of your chances of
winning. My personal favorite to win this year, however, is
Daron Acemoglu of the MIT.

The writer is chief economist, CIMB-GK Securities Indonesia. The
views expressed are personal.

Wednesday, September 27, 2006

harga beras dan kemiskinan

Nama saya Imam Rasyidi. Saya adalah kontraktor rumah tinggal. Website usaha saya: www.rii-kontraktor.com, email: irasyidi@yahoo.com, HP: 0816-997922, 021-70727840

_____________________________________________________________


Saya baru baca dari majalah the Economist tanggal 14 September 2006 bahwa menurut World Bank harga beras di Indonesia terlalu tinggi dan salah satu factor penyebab kemiskinan: “A report on the subject being prepared by the World Bank argues that artificially high rice prices are much more to blame than the effects of the fuel-price increase. This is because most poor people spend a quarter of their earnings on rice, which has risen in price by more than a third in the past year. Keeping domestic rice prices higher than international prices by severely limiting imports makes little sense, the World Bank argues. It claims that 75% of the poor earn their living from agriculture but that at least 75% of the poor are net rice consumers.”

Kalaupun analisis ini benar saya tahu pasti SBY tidak akan membuat kebijakan yang menurunkan harga beras karena tentu saja beliau tidak senaif itu membuat kebijakan yang akan menyebabkan kegemparan di media massa. Para petani mungkin tidak akan marah dan hanya pasrah saja. Yang akan mengambil kesempatan paling-paling para politisi yang berusaha untuk “memihak para petani”.

Saya sendiri berpendapat ada hal yang lebih penting dan berperan besar untuk menurunkan tingkat kemiskinan di Indonesia yaitu …..korupsi. Bosen ah, mungkin ada yang bilang begitu. Saya tidak akan bosen mewacanakan ini. Mungkin saya mesti lebih kreatif lagi untuk membuat korupsi lebih disadari oleh masyarakat, atau paling tidak oleh yang baca artikel ini, sebagai musuh utama nomor 1 di Indonesia.

Mestinya SBY lebih kreatif menyadarkan masyarakat yang dipimpinnya untuk bersama-sama memerangi korupsi. Saya sangat yakin yang dapat untung dari korupsi hanya sebagian kecil dari orang di Indonesia. Jauh lebih banyak yang kena mudaratnya.

Buat sebagian besar masyarakat saat ini, korupsi seolah-olah tidak berpengaruh terhadap kehidupan keseharian mereka. Buat masyarakat bawah, dengan keterbatasan pendidikannya, sukar untuk mencerna bahwa koruptorlah yang menyebabkan mereka tetap miskin. Kalaupun menyadari, mereka bingung bagaimana menyikapinya. Lha wong mikirin makan sehari-hari aja udah puyeng.

Buat kelas menengah, hidupnya sudah cukup nyaman dengan segala kenikmatan dari kehidupan kelas menengah yaitu clubbing, rumah dan kendaraan yang adem dan kinclong, liburan yang selalu dinanti dsb. Pokoknya jangan sampai kenyamanan ini berlalu begitu saja.

Buat kelas elit yang menguasai perekonomian apalagi. Yah paling susah kalau negeri ini tidak stabil. Itu berarti pundi-pundinya tidak akan bertambah. Walaupun buat kalangan elit ini, kalau ada kerusuhan ya tinggal naik helicopter ke bandara atau naik pesawat pribadi dan tinggal di Singapur sana.

Secara fisik memang kelas menengah yang kenyamanannya akan terganggung apabila ada ketidakstabilan di negeri kita. Karena itu marilah para kelas menengah untuk lebih memperjuangkan Negara kita untuk bersih dari korupsi karena kalau kemiskinan semakin parah, kerusuhan social akan bisa terjadi lagi. Perusahaan besar dimana anda bekerja akan menutup usahanya karena situasi tidak kondusif.

_______________________________________________________________

Saya adalah seorang lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia yang nyasar menjadi kontraktor rumah. Saya percaya bahwa dengan jujurpun kita bisa sukses. Malah mungkin sukses dunia akhirat. Karena itu moto usaha kontraktor rumah yang saya bangun bersama dua orang teman lainnya (salah seorang partner saya adalah insinyur sipil) adalah jujur, nyaman, hemat. Mudah-mudahan melalui usaha kontraktor rumah ini kami bisa sedikit berkontribusi untuk bangsa ini. Rumah yang sudah kami bangun tersebar di sekitar Jakarta, Bogor, Banten, Depok dan Bekasi. Hasil karya kami dapat dilihat di www.rii-kontraktor.com. Alamat email saya: irasyidi@yahoo.com. HP: 0816-997922 dan 021-70727840